Tips Kuliah di Malaysia Ala Wakil Dekan I FDK UIN Refah
FDK UIN Refah

By Ricky Dwi Pangestu 12 Agu 2019, 09:18:54 WIB Kampus
Tips Kuliah di Malaysia Ala Wakil Dekan I FDK UIN Refah

Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Wadek I FDK) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang (UIN Refah), Dr. Abdur Razzaq, M.A. atau Razzaq mengatakan, kuliah di Malaysia cukup mudah, karena tidak ada tes tetapi administrasi seperti Indeks Prestasi Akademik (IPK) Srata 1 (S1) minimal 3.0.

“Untuk kuliah di Malaysia sebenarnya yang diperlukan adalah di Malaysia itu tidak ada tes, hanya administasi, administasi itu IPK dari S1 minimal 3.0.,” kata Razzaq di lantai 2, ruang Dekan FDK UIN Refah, Palembang, Senin (29/7/2019).

Razzaq menambahkan, selain IPK minimal 3.0, persiapan yang harus dilakukan mahasiswa adalah kemampuan bahasa inggris atau bahasa arab. Kenapa bahasa inggris atau bahasa arab, karena jika mahasiswa memilih jurusan islamic studies penekanannya di bahasa arab, jika ilmu ekstrak tesnya bahasa inggris.

Jika mahasiswa yang tes bahasa arab tidak lulus, maka mahasiswa tersebut akan diberikan bimbingan bahasa arab 2 semester dari kampus yang bersangkutan. Bagi yang lulus, mahasiswa akan langsung kuliah dan diminta menyelesaikan 3 semester untuk mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Bahasa Melayu dan Metodologi Research.

Selain itu, selama kuliah di Malaysia Razzaq tidak memakai beasiswa, untuk membayar keperluan kuliah Razzaq bekerja menjadi pengajar di masjid, privat mengajar Al-Qur’an, dan ceramah di beberapa tempat.

“Untuk pendatang baru biasanya agak susah, karena untuk ceramah harus ada surat izin ceramah. Kecuali pengurus masjid atau mushollah sudah kenal dengan mahasiswa itu, jadi bisa ceramah, seperti saya, walaupun tidak ada surat izin, karena kenal yah diperbolehkan” ujar Pria kelahiran Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur (Jatim) ini.

Razzaq menjelaskan, memilih kuliah di Malaysia merupakan keinginan sendiri, kultur budaya di Negeri Jiran juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia dan ternyata biaya kuliah master (S2) di Malaysia lebih terjangkau dari Indonesia.

Selama belajar di Malaysia, Razzaq menghabiskan dana sebesar Rp. 20 juta untuk master selama 3 tahun dan ketika mengambil Ph.D (S3) ternyata lebih murah, biayanya Rp. 18 juta selama 2 tahun.

“Tidak semua biaya itu dari uang sendiri, tapi ada beberapa bantuan dari sponsor dan kalau S3nya dari UIN ada untuk 1 semester penyelesaian,” imbuh Razzaq, yang dulu pernah kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Madura, Jatim.

            Tips Kuliah di Malaysia

Ketika memilih kampus di Malaysia, mahasiswa harus memilih kampus yang sudah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau Ristekdikti, karena Ristekdikti sudah menetapkan beberapa kampus yang berkualitas untuk menjadi rujukan, karena beberapa kampus di Malaysia sudah peringkat dunia dan kelulusannya selalu dipertimbangkan.

“Sebab kalau kita kuliah dikampus yang tidak diakui Ristekdikti maka nilai penyetaraannya biasanya akan bermasalah. Jadi mahasiswa harus memilih kampus-kampus besar, yang ternama dan yang kualitasnya bagus,” tambah Razzaq.

Razzaq mengungkapkan, untuk biaya hidup di Malaysia hampir sama dengan Palembang, Jakarta atau Jawa, setidaknya mahasiswa harus menyiapkan dana untuk bertahan selama 3 bulan, baru setelah itu mahasiswa akan mudah beradatasi.

Yang paling penting, ketika mahasiswa Indonesia kuliah di Malaysia, mahasiswa harus disiplin dan tepat waktu. Di Malaysia, akademisi dan dosennya sangat menghargai kecepatan, jika mahasiswa lulusnya cepat pasti mendapat penghargaan dari kampus.

“Ketika Ph.d, saya mendapat penghargaan sebagai Graduan Cemerlang 2009, karena saya menyelesaikannya selama 2 tahun. Saya diundang dan makan bersama Raja atau rektor kampus waktu itu, dan mendapat hadiah uang 1000 Ringgit,” kata Pria yang mendapat gelar Ph.D nya di University Of Malaya, Malaysia, konsentrasi Akidah dan Pemikiran Islam.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment